Jumat, 03 September 2010

Kumpulan Puisi "Sapardi Djoko Damono"

AKU INGIN


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..

HUJAN BULAN JUNI


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu,

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu..

PADA SUATU HARI NANTI


Pada suatu hari nanti

Jasadku tak akan ada lagi

Tapi dalam bait-bait sajak ini

Kau takkan kurelakan sendiri,

Pada suatu hari nanti

Suaraku tak terdengar lagi

Tapi di antara lirik-lirik sajak ini

Kau akan tetap kusiasati

Pada suatu hari nanti

Impiankupun tak dikenal lagi

Namun di sela-sela huruf sajak ini

Kau takkan letih-letihnya kucari

PERTEMUAN


Perempuan mengirimkan air matanya

Ke tanah-tanah cahara, ke kutub-kutub bulan

Ke landasan cakrawala, kepalanya di atas bantal

Lembut bagai bianglala

Lelaki tak pernah menoleh

Dan di setiap jejaknya; melebat hutan-hutan,

hibuk pelabuhan-pelabuhan, di pelupuknya sepasang matahari

Keras dan fana

Dan serbuk-serbuk hujan

tiba dari arah mana saja (cadar bagi rahim yang terbuka,

udara yang jenuh)

Ketika mereka berjumpa, di ranjang ini.

MAUT


Maut dilahirkan waktu fajar

Ia hidup dari mata air;

Itu sebabnya ia tak pernah mengungkapkan seluk-beluk karat

yang telah mengajarinya bertarung

melawan hidup; ia juga takkan mau

Menjawab teka-teki sejakala

Yang telah menahbiskannya

Menjadi Penjaga gerbang itu

Maut mencintai fajar

dan mata air, dengan tulus